Berita

Sang Pemimpin Menyapa Santri, Gus AMI Harap Pesantren Dan Santri Jadi Subjek Pembangunan

Bangkitnews.id. Makassar, – Perhelatan Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober 2020, dikemas menarik oleh Media Tribun Timur yang bekerjasama dengan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sulawesi Selatan dengan tema “Sang Pemimpin Menyapa Santri” dengan menghadirkan Panglima Santri, Gus Abdul Muhaimin Iskandar, pada Rabu, 21 Oktober 2020 melalui Tribun VIP, Live Youtube dan Facebook Tribun Timur serta melalui Zoom Meeting.

Gus AMI, sapaan akrab Gus A. Muhaimin Iskandar yang hadir live langsung dari Kediri Jawa Timur memulai sapaan hangatnya kepada Pemimpin Redaksi Tribun Timur, Bapak Thamzil Thahir yang sekaligus menjadi moderator dan mengawal acara selama hamper dua Jam.

Diminta bercerita perihal perjalanan perjuangan pencetusan Hari Santri Nasional, Gus AMI mengisahkan perjalanan panjang tersebut sampai kemudian tertuang dalam kepres Nomor 22 Tahun 2015 yang merupakan sebuah terobosan di mana sekian puluh tahun, khususnya sejak dalam Orde Baru tidak pernah ada dalam teks buku sejarah yang mengungkap peran dan spirit keagamaan yang heroik oleh kaum santri dalam mempertahankan kemerdekaan.

Hari Santri Nasional menurutnya memberi ingatan kepada kita semua untuk tidak melupakan sejarah, “ Jas Merah, jangan sekali kali melupakan sejarah, khususnya bagaimana kontribusi dan peran santri pada masa masa perjuangan awal kebangsaan, jikalau peran santri dilupakan dan santri bermasalah maka Indonesia bermasalah. Setiap pemerintahan yang dapat mengelolah kekuatan santri maka Insya Allah akan berjalan baik-baik ” tegasnya.

Gus AMI sebagai Panglima Santri yang besar dan tumbuh di lingkungan pesantren, saat ditanya lebih jauh terkait posisioning pesantren dan santri hari ini ditengah pandemi dan resesi ekonomi mengungkapkan harapannya kepada semua kalangan untuk bersinergi mennghadapi masa depan yang semakin penuh tantangan, penguasaan teknologi di era digital adalah sebuah keniscayaan yang harus dipenuhi dan dihadapi untuk melakukan berbagai lompatan kemajuan dimasa depan yang akan semakin menggairahkan dengan tantangan Sumber Daya Alam Indonesia sebagai sebuah kekayaan besar, khususnya kebuntuan industri hari ini yang berbanding terbalik dengan peran industri pertanian yang semakin berkembang dan menjanjikan sebagai solusi. “Kita sebagai bangsa harus bersatu padu dengan perbedaan Suku, Agama, Ras dan Golongan ini dalam kebersaman, kegotongroyongan dan solidarity, saling tolong menolong memperkuat habdum minannas sebagai tanda kesalehan beragama” tambahnya.

Saat dicecar dengan pertanyaan oleh Pimpred Tribun Timur, tentang apa yang menjadi pembeda dan kekhasan dari pesantren menurut Gus AMI, santri dan Politisi yang sudah menjadi Anggota DPR RI saat berumur 31 tahun ini mengatakan bahwa seperti halnya lembaga yang tumbuh ditengah masyarakat, pesantren memang lahir dari keinginan masyarakat, biasanya diawali dari pembangunan masjid, pengajian dan setelahnya ada kurikulum, yang pada akhirnya bukan hanya bicara ilmu keagamaan tapi ilmu umum, yang menepatkan agama sebagai pondasinya. Pesantren selalu melahirkan tokoh-tokoh agama, kekhasan pesantren lahir dan berkembang ditengan keterbatasan keterbatasan” Ungkapnya sambil berseloroh saat mencontohkan bebrapa pesantren tumbuh dan kuat dan mandiri ditengah berbagai keterbatasan.

Webinar yang juga mengahadirkan narasumber dari Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PKB Andi Muawiyah Ramly (AMURE) mengisahkan perjalanan kebersamaanya dengan Gus Dur sebagai satu satu santri yang pernah memimping bangsa ini, menurutnya sebagai sosok santri, Gus Dur adalah seorang penulis dan pembaca buku yang ulet. Gagasan dan grand teorinya tentang pesantren sudah ada sejak lama ditulisnya. AMURE menambahkan bahwa Gus Dur adalah orang yang menarik kita dari pinggir ke tengah. “Kehadiran beliau memperlihatkan bahwa inilah santri di panggung politik dan generasi berikutnya pasti akan ada santri yang berpotensi kembali kepusaran tersebut.

Sementara itu Ketua DPW PKB Sulawesi Selatan Azhar Arsyad menegaskan bagaimana kendala memperjuangkan pesantren agar mendapat perlakuan yang setara ditengah persepsi pesantren hanya tempat belajar agama. “Kita mencoba menyambungkan pesantren dengan program , misalnya BLK Komunitas. Tantangan berikutnya adalah bagaimana memposisikan santri untuk percaya diri dengan kemampuannya, Pesantren adalah kawah chandradimuka, tempat belajar agama dan interaksi dengan masyarakat “ tegasnya.

Diakhir acara, kepada semua peserta dan beberapa perwakilan pondok pesantren tertua di Sulawesi Selatan seperti Pesantren Assadiyah Sengkang, Pesantren DDI Kabalangan Pinrang, Pesantren Annahdah Makassar dll, Gus AMI menegaskan beberapa hal bahwa Santri sudah berkembang defenisinya, tidak hanya alumni pesantren, santri berkembang maknananya menjadi semua umat Islam yang bersemangat mennjalankan agamanya dengan istiqamah, ikhlas, tulus. Ini menjadi penting menurutnya karena akan berkembang nilai-nilai kesantrian, akhlatul karimah, suhud, dan keikhlasan perjuangan total dalam setaiap level kehidupan. “ Santri dan Pesantren harus menjadi subjek pembangunan, dan saya mengajak semua kekuatan bersatu padu, bahu membahu menyelesaikan masa krisis ini dengan sebaik baiknya” Tegasnya.

Edit By Ismail M

The Latest

To Top